Jumat, 08 November 2019

Harga Lada Bangka Belitung Anjlok Jadi Rp 59 Ribu Per Kg

Presdir TIKI JNE, Mohamad Feriadi : Sekarang Zamannya Berkolaborasi

, Jakarta - Trend usaha berbasiskan tehnologi digital (online) tidak cuma merambah bidang transportasi. Di bagian logistik juga, beberapa perusahaan aplikasi transportasi online sediakan layanan pengiriman barang. Bisa jadi, ini jadi intimidasi buat entrepreneur logistik konvensional. Walau mereka memulai meningkatkan aplikasi online, kedatangan layanan pengiriman barang berbasiskan aplikasi membuat kompetisi makin ketat.

Tetapi, buat Presiden Direktur PT TIKI Jalan Nugraha Ekakurir (JNE) Mohamad Feriadi, menambahnya aktor usaha logistik, khususnya yang berbasiskan aplikasi, tidak jadi intimidasi. “Kami malah lihat mereka jadi kesempatan baru,” katanya pada wartawan Tempo Praga Penting serta photografer Frannoto di kantornya, akhir Maret kemarin.

Sepanjang hampir satu jam, pria yang akrab dipanggil Feri ini mengutarakan pandangannya masalah usaha logistik. Feri, yang memegang Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Pengiriman Ekspres, Pos, serta Logistik Indonesia (Asperindo), memberi komentar gagasan pemerintah yang selekasnya keluarkan paket kebijaksanaan deregulasi bidang logistik. Di bawah ini cuplikan wawancaranya.

Perusahaan transportasi berbasiskan aplikasi online sekarang punyai layanan pengiriman barang. Perusahaan logistik asing makin banyak. Bagaimana taktik JNE dalam hadapi kompetisi ini? Kami harus membuat taktik serta pengembangan baru supaya berlainan dengan kompetitor. Kompetisi juga sekarang bukan antarperusahaan, tetapi antar-platform, yang konvensional berkompetisi dengan yang digital. Tetapi kami lihat jumlahnya pemain baru bukan jadi intimidasi. Jika cermat, malah ada kesempatan baru yang dapat kami gunakan. Diantaranya, kerja sama.

Seperti apa memiliki bentuk? Perusahaan-perusahaan rintisan berbasiskan tehnologi (start-up) punyai kelebihan, yaitu dana besar serta tehnologi. Tetapi mereka belum mempunyai jaringan. Walau sebenarnya, dalam usaha logistik, membuat jaringan itu perlu waktu lama. JNE punyai kelebihan sebab jadi top of mind atau pilihan penting customer untuk layanan pengiriman barang. Karenanya, kami ingin memperantai perusahaan online yang merambah ke bidang ini. Saat ini usaha tidak mungkin jalan sendiri. Bukan waktunya bersaing, sekarang zamannya bekerjasama.

Pengembangan apa yang dikerjakan JNE supaya bisa berkompetisi dengan pendatang baru? Hubungan dengan konsumen setia harus segampang mungkin. Kami meningkatkan aplikasi Internet supaya customer lebih gampang mencari kiriman serta cari tempat JNE paling dekat. Kami bekerja bersama dengan pop box alias loker (almari) pandai. Sekarang, barang dapat dibiarkan di pop box, penerima akan memperoleh password untuk loker itu serta dapat setiap saat membukanya. Untuk memberikan kejelasan kapan barang akan dikirim serta diterima untuk customer, kami meningkatkan skema pemberitahuan SMS gratis. Akan ada pemberitahuan waktu barang dikirim, transit, serta diantar.

Apa JNE akan buka kerja sama juga dengan aplikasi online atau perusahaan e-commerce? Kesempatan kerjasama masih terbuka. Kami banyak bekerja bersama dengan perusahaan lain, serta dengan pemerintah. Contohnya pengiriman logistik pemilu. Kami terbuka untuk tiap fragmen.

Tahun ini JNE akan meningkatkan investasi Rp 500 miliar, untuk apa sajakah? Kami akan meningkatkan jaringan serta membuat gudang baru. Ini sisi dari capacity rencana, sebab kemampuan yang ada telah kurang untuk memuat kekuatan dari usaha mendatang. Ditambah lagi, sebab e-commerce terus berkembang, kami harus meningkatkan kemampuan supaya memperoleh bagian yang semakin besar dalam usaha ini.

Dalam satu bulan, JNE mengatasi 16 juta kiriman, apa hal tersebut telah melewati potensi sekarang? Belum. Tetapi kami tetap harus meningkatkan kemampuan untuk menghadapi lonjakan, contohnya waktu mendekati Ramadan. Kami ingin jaga tempat supaya kemampuan kami masih besar supaya tidak kelebihan beban. Kami meyakini, kekuatan dalam industri logistik selalu naik. Tahun ini saja kami memprediksi perkembangan usaha dapat 30-40 %, didukung kenaikan transaksi e-commerce. Ruangan pertumbuhannya masih besar.

Dalam tempo dekat, pemerintah akan keluarkan paket kebijaksanaan deregulasi di bagian logistik. Apa yang Anda harap dari paket ini? Kebetulan Asperindo diakui oleh pemerintah menjadi partner diskusi berkaitan dengan pengaturan paket kebijaksanaan ini. Salah satunya yang kami usulkan ialah pemeriksaan kembali ketentuan Regulated Agent (RA). Pasca-peristiwa 11 September di Amerika, ada ketentuan baru di bidang logistik yang mengharuskan kargo yang akan masuk pesawat dicheck dengan mesin x-ray. Indonesia telah meratifikasi ketentuan internasional itu. Sayang, RA diurus swasta yang fokus keuntungan. Tarifnya cukup mahal, Rp 800 per kg di Jakarta, serta ditanggung pada customer. Kami memberi input, semestinya masalah ini diurus pemerintah hingga tarifnya tambah murah.

Tahun kemarin Bank Dunia memberikan laporan logistic performance index Indonesia turun dari rangking ke-53 jadi ke-63. Apa biaya ini menjadi sebabnya? Benar. Itu dikarenakan kehadiran RA. Tidak hanya ongkos RA, penyebab turunnya logistic index ialah ongkos tinggi dalam pengiriman barang karena kemacetan serta infrastruktur yang kurang baik. Ada pula aturan-aturan yang bertumpukan, serta pungutan-pungutan yang memberatkan biaya yang akan berefek pada customer. Kemampuan terminal kargo di banyak lapangan terbang di Indonesia tidak berubah, walau sebenarnya volume kargo terus naik tiap tahun.

Anda menjelaskan sekarang telah waktunya bekerjasama. Lalu, apa yang dikerjakan Asperindo untuk menggerakkan kerjasama antarperusahaan layanan pengiriman? Kami sedang meningkatkan basis bernama Asperindo Logistic Integrated Solution (ALIS). Basis ini dapat digunakan beberapa entrepreneur logistik rasio kecil yang jaringannya tidak luas. ALIS sangat mungkin entrepreneur kecil kirim barangnya ke luar negeri, bekerja bersama dengan perusahaan yang jaringannya lebih luas.

"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar